When I started to jump into this blogging thing, I realize that I can use this medium to store samples of my works. It is like having a CV, basically.
In a more honest tone, it is a hall of fame, aha!
—–
Mochtar Lubis
Nirbaya
Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru
I play a miniscule role in this publication, I typed the document. That is it. But I know that the manuscript I typed is precious and important, and therefore my role is still something. Moreover, I had fun and I was rejuvenated my on-and-off wish to document my days in this blog you are reading right now.
Well, everything counts, right?
“Apa yang bikin orang-orang berkuasa tak senang, atau takut pada tulisan-tulisan saya? Saya sungguh heran. Saya tak berjuang dalam organisasi massa, saya tidak membina sesuatu massa. Saya hanya mencurahkan isi hati nurani dan pikiran-pikiran saya untuk kemajuan bangsa, perbaikan keadaan, mengoreksi apa yang saya rasa perlu dikoreksi, tapi orang-orang berkuasa selalu merasa glisah menghadapi buah pikiran saya.”
Mochtar Lubis, 9 Februari 1975.
Apa arti naskah semacam ini untuk dibaca oleh para pembaca di awal abad 21 Bagaimana pun juga naskah ini adalah catatan berharga dari warisan Mochtar Lubis untuk menunjukkan kekukuhan sikapnya, biar dituding atau dituduh apapun, ketika jiwa memiliki keteguhan, maka kebenaran akan menemukan jalannya. Kebeasaran jiwa yang tidak terpenjara juga hendak ditujukan dalam buku ini, dimana penjara secara fisik tak pernah menghalangi atau mematahkan semangat orang seperti Mochtar Lubis.
Ignatius Haryanto, Kata Pengantar
Pada akhir tahun 1950-an, saat saya masih mahasiswa dan mendengar bahwa Mochtar Lubis hendak dipenjara, saya sempat mengajukan diri untuk bisa menggantikan Mochta rlUbis dari hukuman pemenjaraan. Saat beliau sudah keluar dari tahanan akhir tahun 1960-an, saya menemui beliau di rumahnya, dan beliau merasa senang sekali bertemu dengan anak muda yang bersemangata. Saya melakukan itu karena saya memang sangat mengagumi sosok Mochtar Lubis.
Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers
Diketik ulang oleh: Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Diedit oleh: Hanif Suranto, Ignaitus Haryanto
Kata Pengantar: Ignatius Haryanto
Edisi Pertama: April 2008
Penerbit: Yayasan Obor dan LSPP
—-
Wiji Thukul, dkk
Kebenaran akan Terus Hidup
Catatan-catatan tentang Wiji Thukul
I have to say, my writing on Wiji Thukul was my best one. This is indeed my masterpiece. I truly find it hard to produce a piece of writing like this, in my lifetime, honestly.
Strangely, it takes only half an hour to draft it and couple of hours to polish this. I guess it is because the moment, the topic and the characters were incredibly strong, so special and very inspiring.
I simply lend my words for them to speak for themselves.
Penerbit: IKOHI dan Yappika atas dukungan Canadian International Development Agency
Editor: Wilson
3 September 2001 | 1999 kata
Film
Menunggu Thukul Pulang
Oleh Gita Widya Laksmini
Hanya satu kata: lawan!
TANPA terasa lima tahun berlalu sudah dari Peristiwa 27 Juli 1996, ketika markas besar Partai Demokrasi Indonesia (PDI) diserbu polisi, tentara, dan massa bayaran. Salah satu lembar sejarah Indonesia ini tercoreng tinta hitam saat terjadi pengambilalihan sekretariat PDI yang diikuti pengrusakan dan pembakaran. Berdasarkan laporan Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia pada Oktober 1996, tercatat lima orang meninggal dunia, 149 luka-luka, dan 23 orang hilang. Salah satu yang tak kunjung pulang adalah Wiji Thukul.
Siapakah Wiji Thukul? Lahir di kampung Sorogenen, Solo, 23 Agustus 1963, penyair bernama asli Wiji Widodo ini besar di keluarga tukang becak. Pendidikan tertinggi Thukul Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang. Demi perut, penyair ini kerja serabutan: jual koran, jadi calo karcis bioskop, sampai jadi tukang pelitur. Dalam perjuangan menyambung hidup, Thukul tak pernah berhenti menulis puisi.
Thukul penyair radikal, puisinya bernuansa perlawanan. Sejatinya ia pembangkang. Pada 1992 dia ikut demonstrasi terhadap pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo memprotes pencemaran lingkungan. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) yang jadi bagian Partai Rakyat Demokratik (PRD). Lantaran memimpin demonstrasi di pabrik tekstil PT Sritex Sukoharjo tahun 1995, sebelah mata Thukul cedera dipopor seorang tentara. Ketika gelombang demonstrasi menggulingkan Presiden Soeharto tak lagi bisa dibendung, puisi Thukul berjudul “Peringatan” yang ia gubah tahun 1986 menjadi larik wajib untuk dikumandangkan. Nyaris tiap demonstran masa itu kenal kalimat perkasa Thukul: “Hanya ada satu kata: lawan!”
Sebagian orang percaya bahwa Thukul sengaja dilenyapkan aparat keamanan. Maklum, ia anggota Partai Rakyat Demokratik yang dijadikan kambing hitam pemerintahan Soeharto atas pecahnya kerusuhan massa pada 27 Juli 1996. Thukul pergi menyelamatkan diri dengan meninggalkan istrinya, Dyah Sujirah alias Sipon, yang kini berusia 34 tahun, dan dua anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, masing-masing berusia 10 dan 6 tahun. Keadaan memaksa Thukul untuk terus berlari tanpa bisa berhenti. Toh ia tetap menulis puisi sekalipun bertabir nama samaran.
Kontak dengan keluarga dan sahabat makin tak teratur. Thukul mulai lenyap ditelan angin. Desember 1997, ketika Thukul pulang diam-diam menemui keluarga dan kembali menghilang. Awal Februari 1998, Thukul hanyalah sebentuk suara di ujung telepon. April 2000, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau biasa disingkat Kontras. Pertengahan tahun yang sama, Forum Sastra Surakarta (FSS) dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul “Thukul, Pulanglah” yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Berbagai kabar burung beredar. Sempat ada berita yang menyatakan bahwa Thukul disekap di kepulauan Seribu. Media lain menyebut Thukul bersembunyi di Jerman. Kabar lain menyatakan Thukul diam di Belanda. Ada pula yang melansir Thukul kini berada di Australia. Tapi Thukul tak juga ketemu, Thukul tak juga pulang. Ia hanya muncul dalam mimpi Sipon dan anaknya, Fitri Ngathi Wani, dengan berbaju putih dan berparas bersih. Apakah Thukul hidup atau mati, tak seorang pun tahu persis.
NOVEMBER 2000, Tinuk Yampolsky, Dawn Buie, dan saya memutuskan mencari Thukul. Kami bermaksud menelusuri jejak-jejak Thukul dalam kenangan orang-orang yang mencintainya. Kami ingin mencarinya lewat sebuah film dokumenter.
Awal gagasan membuat film dokumenter tentang Thukul ini datang dari Tinuk Yampolsky. Tinuk pribadi sempat kenal dengan Thukul semasa di Solo. Di awal 1980-an, Tinuk muda pernah mendampingi Thukul membacakan puisi-puisinya untuk diudarakan di acara Sastra Budaya radio PTPN Solo. Sejak 1987 Tinuk bersama suaminya, Philip Yampolsky, yang pindah ke Amerika Serikat. Di sana, ibu satu anak ini jadi dosen Bahasa Indonesia di Universitas Yale. Sekembalinya ke Indonesia tahun 2000, Tinuk membaktikan diri pada dunia sastra Indonesia yang begitu ia cintai dan bekerja sebagai managing editor di Yayasan Lontar.
Di yayasan ini Tinuk bertemu dengan relawati asal Kanada Dawn Buie. Dalam beberapa kesempatan, Tinuk mendiskusikan gagasannya kepada Dawn yang mendisain situs web Yayasan Lontar www.lontar.org. Dawn lulusan jurusan film/video di Emily Carr Institute of Art and Desain, Vancouver. Dawn dengan senang hati membantu Tinuk. Toh pekerjaannya di Yayasan Lontar memungkinkan dirinya punya banyak waktu luang. Di kala senggang, Dawn gemar mengembara.
Di satu waktu, kaki Dawn melangkah ke QB Book Store di Jakarta. Pada saat yang sama, saya tengah menjajaki kesempatan wawancara dengan penulis Scott Merrilees dengan buku Batavia in Nineteeth Century Photographs di toko buku itu. Dawn sekonyong-konyong masuk dalam obrolan antara kami dan membuat diskusi jadi lebih menyenangkan. Di kesempatan itulah, saya berkenalan dengan Dawn yang membeberkan rencana Tinuk.
Perjumpaan tersebut mempertemukan kami bertiga. Di Yayasan Lontar November 2000, kami bertemu dan bertukar pikiran seputar pembuatan film dokumenter tentang Widji Thukul. Dalam proyek ini Tinuk berperan sebagai sutradara dan produser. Dawn memegang kamera. Berbekal pengalaman berkecimpung di Komunitas Film Independen, saya jadi periset dan mengurusi semua yang perlu diurus (menurut Dawn, itu membuat saya layak disebut asisten sutradara).
Sebenarnya siapalah kami bertiga ini? Dimana kami ketika Peristiwa 27 Juli 1996 pecah? Apa yang kami lakukan ketika Thukul berlari tergopoh-gopoh mengemasi nyawanya? Tinuk ada di Amerika Serikat. Dawn sedang kuliah di Vancouver. Saya sendiri, mahasiswi psikologi yang apolitis dari Universitas Indonesia, ada di Bandung ketika itu. Gagap betul tutur apabila kami mesti bicara tentang Thukul.
Tinuk membuat keputusan untuk tak menyentuh aspek politik. Film ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan kehidupan Thukul sebagai penyair. Sungguh, ini sulit. Melepaskan Thukul dari konteks pergerakan politik ibarat memisahkan darah dari dagingnya. Thukul hidup di tengah sorak sorai demonstran yang berusaha menumbangkan tirani yang menua di negeri ini. Sudut pandang Tinuk terasa berat untuk diwujudkan, terutama pada saat riset.
Ternyata jalan bukannya tanpa cahaya, serpih-serpih daging dari figur penyair tanpa rangka bernama Wiji Thukul pelan-pelan terkumpul. Berdasarkan riset, diketahui bahwa kepenyairan Thukul semasa muda digodok di pusat-pusat kebudayaan dan aneka sanggar yang berserak di sepanjang Solo. Berbagai puisi, cerpen, esai, dan resensi puisi Thukul sempat diterbitkan berbagai media cetak dalam dan luar negeri seperti harian Suara Pembaruan, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Merdeka, maupun majalah Inside Indonesia (Australia) dan Tanah Air (Belanda). Puisi Thukul juga menghiasi aneka penerbitan pers mahasiswa seperti majalah Politik (Universitas Nasional), Imbas (Universitas Kristen Satya Wacana), Pijar (Universitas Gadjah Mada), Keadilan (Universitas Islam Indonesia), dan buletin berbagai lembaga swadaya masyarakat. Puisi Thukul juga beredar dalam bentuk fotokopian dan dikumpulkan dalam Puisi Pelo (terbit sekitar 1983-1989 oleh Taman Budaya Surakarta), Ketika Rakyat Pergi (terbit sekitar 1984-1988), Darman Dan Lain Lain (terbit sekitar 1985 oleh Taman Budaya Surakarta) dan Lingkungan Kita Si Mulut Besar (terbit antara tahun 1986-1991).
Selain mengamen puisi diiringi instrumen musik seadanya di sepanjang Solo, Yogyakarta, Klaten dan Surabaya, pada 1989 Thukul diundang oleh Goethe Institute untuk membacakan puisinya di kedutaan Jerman Barat di Jakarta. Tiga tahun berikutnya, Thukul tampil di “Pasar Malam Puisi” yang diselenggarakan Erasmus Huis di Jakarta dimana Thukul bersua dengan mantan tahanan politik Putu Oka Sukanta. Di tahun itu juga Wiji Thukul meraih Wertheim Encourage Award dari Belanda. Sayang ketika itu Sipon sebentar lagi melahirkan putri pertamanya, Thukul batal berangkat ke Belanda. Sampai sekarang sertifikat penghargaan yang jadi hak Thukul raib entah kenapa.
Selepas dari Sarang Teater Jejibahan Agawe Geneping Akal Tumindak (JAGAT), Thukul kemudian mendirikan Sanggar Suka Banjir di kampung halamannya. Kampung Kalangan memang langganan diserbu air bah tiap musim hujan. Di sanggar yang menyediakan taman bacaan berisi buku-buku dari pasar loak, Thukul juga menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak. Sisi kehidupan Thukul sebagai penyair ternyata toh penuh warna.
Berbekal informasi tersebut, kami bertiga menyiapkan diri. Dengan dana serba mandiri dan pinjaman perlengkapan dari segala penjuru, kami kumpulkan keberanian untuk melangkah masuk ke dalam relung kenangan dari orang-orang yang mencintai Thukul. Kami berangkat ke Solo akhir tahun 2000. Sesuai kesepakatan, film dokumenter kami akan menangkap Thukul sebagai penyair. Untuk menyelami sisi tersebut kami menjelajah ke berbagai pusat kebudayaan dan sanggar kesenian, tempat di mana sebatang besi bernama Wiji Thukul ditempa dan dibentuk jadi penyair.
Yang pertama kami temui adalah teman-teman Thukul dari Taman Budaya Surakarta, tempat awal dia beraksi jadi seniman. Suliyanto pekerja teater Taman Budaya Surakarta mengenal Thukul di pentas pertamanya sekitar 1970-an. Direktur Taman Budaya Surakarta Murtidjono mensponsori cetak stensil kumpulan puisi perdana Thukul. Pemain teater St. Wiyono yang juga penari, mengenang Thukul sebagai anak kecil kurus kering yang selalu menyatakan pendapat seenak udel. Menurut pemain teater Gigok Anuraga, sedari kecil Thukul memang punya naluri memberontak.
Pelan-pelan jejaring kenangan yang membalut sosok Thukul mulai terbentuk. Tak terasa kami bertiga masuk semakin jauh ke dalam terowongan waktu. Seiring dengan itu, kami jadi makin tak mampu untuk mengelak dari pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Dimanakah Thukul berada sekarang? Apakah Thukul masih hidup? Atau sudah matikah ia? Kalau ya, dimana jasadnya dikuburkan? Tak bisa lagi dipendam, pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan. Tetap teman-teman di Taman Budaya Surakarta hanya bisa mengangkat bahu, tak ada yang pasti apakah Thukul hidup atau mati.
Sementara itu penyair Sosiawan Leak, pemrakarsa forum “Thukul, Pulanglah,” punya pendapat menarik. Menurutnya Thukul masih hidup. “Kalau sudah mati, pasti ada kuburnya. Kalau kuburnya belum ketemu, artinya Thukul masih hidup,” begitu Leak berargumen. Yakinkah Leak? Dirinya menghela nafas, pelan dan panjang.
Di mata Janthit Sanakala dan Lawuwata, pentolan Sarang Teater Jejibahan Agawe Geneping Akal Tumindak, yang dianggap banyak orang “bertanggung jawab” atas mengerasnya pribadi Thukul, punya pendapat sendiri. “Yang jelas, keadaan lebih baik tetap seperti sekarang,” tutur Lawuwarta. “Dengan begini, Nganthi Wani dan Fajar Merah bisa menepuk dada dengan bangga dan berkata, ‘Ayahku pahlawan!’,” begitu ujar Janthit. Hidup atau mati tak banyak beda, Thukul toh tetap hadir bersama mereka.
Pendapat teman-teman Tukhul saling berselisih jalan. Kepingan hidup Thukul yang berjiwa merdeka memang tersebar dimana-mana. Sampai akhirnya kami bertiga tiba ke kediaman Thukul, tempat istri dan anak-anaknya tinggal. Rumah itu kecil saja, sederhana. Kontrakan seharga Rp 200 ribu per tahun itu, berdinding kayu dengan cat putih yang mulai luntur. Di dalam bangunan seluas sekitar 3.5 x 3.5 m, ada satu studio jahit, satu ruang tidur, dan satu ruang keluarga tempat anak-anak Kampung Kalangan bermain dan nonton TV bersama. Di bagian belakang ada bangunan tambahan yang dibuat seadanya dari batako tanpa plester. Di sanalah letak dapur dan jamban, bersalut jelaga, dan lumut.
Di rumah ini, Sipon menerima pesanan jahitan dari para tetangganya demi menghidupi Nganthi Wani dan Fajar Merah. Jelujur jarum Sipon, perempuan anak penjual barang rongsokan, yang menambal kehidupan keluarga mereka yang compang camping.
Saat melangkah masuk, kami bertiga seolah-olah tersedot dalam pusaran arus masa lalu. Tembok rumah mungil itu sesak dengan gambar-gambar Thukul dalam berbagai pose. Sipon memilih beberapa foto dokumentasi dari berbagai pembacaan puisi suaminya untuk ia fotokopi dengan ukuran yang diperbesar. Dalam semburat hitam putih, Thukul tampak begitu hidup. Matanya mendelik, nyalang penuh api. Kepalan tinju Thukul gagah mengganyang udara. Tulang pipi, tulang rahang, dan tulang di dada Thukul membayang nyata. Thukul memang tak pernah gemuk, ia selamanya kecil dan kerempeng. Namun di dinding itu (juga di dinding hati Sipon dan anak-anaknya) Thukul bak raksasa digdaya, perkasa menembus waktu.
Sampailah kami pada giliran Sipon, ini waktunya untuk dia bercerita. Seperti rutinitas yang telah kami jalani sebelumnya, saya dan Dawn mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Microphone unidirectional dipasang, kamera disiapkan. Reflektor ditata, TV monitor dinyalakan. Sementara itu Tinuk berusaha mencairkan kebekuan yang wajar muncul sesaat sebelum seseorang memuntahkan sebagian kehidupannya di depan lensa kamera. Bicara ini itu yang serba ringan. Sipon mulai bisa santai. Istri Thukul yang semula menolak keras untuk terlibat dalam pembuatan film dokumenter ini kini bisa tersenyum. Sesekali Sipon mengusap kepala si bungsu Fajar Merah yang rautnya amat mirip dengan Thukul.
Jari-jari Tinuk membenahi mike yang disematkan di baju Sipon. Tinuk mengangguk, ia sudah siap. Saya menaruh telunjuk di bibir, memberi kode kepada anak-anak Kampung Kalangan yang berjejal di daun pintu dan jendela agar tenang. Dawn siap di belakang lensa.
“Okay, Tinuk. You may start,” Dawn memberi tanda, jemari menekan tombol record. Tangan saya berakrobat seputar ring lensa kamera, mengakali cahaya yang masuk lensa agar imaji yang tertangkap tidak berkilau (glare). Maklum film dokumenter ini mengandalkan pencahaan alami matahari yang datang dari arah belakang lewat etalase ruang jahit Sipon. Berlatar belakang benang dan tekstil beraneka warna, Sipon duduk. Ia mulai bicara tentang dirinya, anak-anaknya, dan suaminya. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari mulut Tinuk, Sipon menjawab dengan tenang. Wawancara berjalan lancar. Sipon perempuan yang tangguh, nyaris tanpa kesulitan ia tumpahkan semua kenangan tentang pria yang menghiasi hidupnya bertahun-tahun.
Akhirnya Tinuk sampai pada titik yang tak bisa lagi ia hindari. Tinuk tak sanggup mengelak, ia pun melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah mati. Dimanakah Thukul berada sekarang? Apakah Thukul masih hidup? Atau sudah matikah ia? Kalau ya, dimana jasadnya dikuburkan? Sipon mendadak gagap, ia terbata-bata. Kerongkongannya seperti tersekat, ia tiba-tiba sulit mengungkapkan penolakannya melawan kepasrahan. Patah patah Sipon menuturkan mimpinya untuk kembali mempunyai keluarga yang utuh.
“Mbak Sipon, apakah Thukul suami yang baik?” Tinuk bertanya, sangat perlahan.
Sipon terhenyak, ia terdiam.
“Ya,” tandasnya tegas beberapa saat kemudian.
“Dan saya sangat ingin ia kembali.”
Dari sudut mata Sipon, keluar bulir-bulir air hangat bermuatan rindu. Bendungan hati Sipon itu jebol sudah. Tinuk terdiam. Semua senyap. Tak lagi perduli citra saya tertangkap kamera, saya maju dan meraih jemari Sipon. Dawn mematikan kameranya.
Kami berempat –Dyah Sujirah, Tinuk Yampolsky, Dawn Buie, dan saya sendiri– menangis bersama. *
Kata Pengantar: Sylvia Tiwon dan Fransisca Fitri
Cetakan Pertama: Agustus 2007
—–

JD Salinger
The Catcher in the Rye
“It felt like a big door in my head suddenly opened up wtde,” said my husband Yudhi on his experience after reading the Catcher in the Rye. I felt the same way. Along with Animal Farm and 1984, it is my favorite book. In fact, it’s number one on my personal list.
So when Yusi Avianto Pareanom, a journalist turned into a publication powerhouse, asked me whether I would like to translate THE book, I said yes without any hesitation.
It is a tremendous honor for me to be able to translate this book. On the flip side, it got raving reviews in numerous newspapers and blogs, wow!
Also, one day I heard on how a college friend of mine commented on how I could translate a book read by, well, psychos. She said, “Well, that’s why Gita was able to translate it, she understands how crazy people think, it takes one to know one.” Hmmm…
Mark David Chapman meminta John Lennon menandatangani buku The Catcher in the Rye di pagi harisebelum ia menembak mati bekas anggota the Beatles itu beberapa jam kemudian. Mengapa para pembunuh orang terkenal dalam sejarah, orang-orang yang dicirikan sebagai “the lone killer”, gemar membaca novel yang sempat dilarang beredar di Amerika ini?
Mengapa buku ini disukai para pembunuh?
Kisah mengharukan dan meyakinkan… penuh amanat jitu, renunngan tajam, dan pemahaman tentang bagaimana seorang rejama mampu menciptakan dunia khayalinya sendiri…” (Chicago Tribune)
Seratus buku terbaik sepanjang masa – Time
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Editor: Yusi Avianto Pareanom
Cetakan Pertama: September 2005
Cetakan Kedua: Juli 2007
Penerbit: Banana Publisher
—–
Reviewed by Suara Pembaruan, 29 October 2005
“The Catcher In the Rye”, Novel Pemicu Pembunuhan John Lennon
AA Sudirman
ADA yang masih ingat nama Mark David Chapman? Namanya melejit dan nyaris menenggelamkan semua tokoh dunia pada 8 Desember 1980. Mantan penjaga keamanan itu sengaja pergi dari Hawaii ke New York dengan tujuan tunggal: membunuh pujaannya.
Dia, pria aneh. Pengagum sekaligus pembunuh pujaannya, John Lennon. Ia meminta sang pelantun Imagine membubuhkan tanda tangan pada novel favoritnya yang berjudul The Catcher in the Rye. Kemudian, jarinya menarik pelatuk pistol yang mengarah ke tubuh pria berambut gondrong dan berkacamata bulat itu. Dunia pun berduka. Media massa seolah tak percaya menyaksikan tubuh Lennon terkapar di luar apartemen Dakota di Kota New York.
Para penggemar The Beatles, terutama penggemar fanatik John Lennon, dari empat penjuru mata angin menjerit pilu saat kematian sang legenda diumumkan. Dunia seolah dipersatukan oleh kematian penyanyi yang lagu-lagunya tetap abadi itu. Seiring dengan kematiannya, karya Lennon lebih sering lagi diputar semua stasiun radio di seluruh dunia. Album rekamannya dirilis ulang.
Mengapa Chapman membunuh pujaannya sendiri?
Penelusuran penyidik di Amerika Serikat dan media massa mengungkapkan kisah aneh di balik pembunuhan itu. Mark David Chapman mengaku pembunuhan keji terhadap pujaannya itu terinspirasi novel The Chatcher in the Rye tulisan Jerome David (JD) Salinger.
Novel itu sendiri berkisah tentang sosok remaja bernama Holden Caufield. Ia remaja yang “sakit”. Dunia pendidikan melelahkannya. Keluar-masuk sekolah yang berbeda adalah kesibukannya. Tetapi yang terpenting adalah, ia, dalam novel itu, memaksa para pembacanya, mempertanyakan sendi-sendi kehidupan yang telah mapan.
Sekalipun rentang waktu dalam novel itu pendek, novel karya Solinger menghadirkan kehidupan penuh depresi, kekasaran, kehidupan seks yang liar, nafsu belanja yang dahsyat, dan berbagai kekacauan hidup.
Tidak jelas benar apa relasi antara novel itu dengan langkah Mark David Chapman membunuh si pencipta lagi Imagine itu. Namun yang pasti Mark ternyata tidak sendiri. John Hinckley, pelaku penembakan mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, ternyata adalah penggemar novel The Catcher in the Rye. Percaya atau tidak, upaya pembunuhan Ronald Reagan yang disaksikan jutaan penduduk Amerika, ternyata dilakukan dengan motivasi yang absurd. Penembakan itu hanya untuk menarik perhatian aktris pujaannya, Jodie Foster.
John Lennon dan Jodie Foster jelas adalah ikon di dunianya masing-masing. Lennon yang suaranya demikian khas lewat lagu Mother punya jutaan pemuja fanatik. Jodie Foster yang melejit lewat Taxi Driver, kariernya terus menanjak. Masih ada contoh lain yang berkaitan dengan novel itu. Film The Conspiracy Theory yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Robert, ternyata tokoh utama yang aneh dalam film ini, lagi-lagi terobsesi novel karya Salinger.
David Chapman, John Hinckley dan tokoh dalam film The Conspiracy Theory adalah sosok manusia-manusia kesepian di tengah masyarakatnya. Dan yang terpenting, mereka adalah pembaca fanatik novel tersebut. David dan Mark yang telah menempatkan nama mereka dalam sejarah pembunuhan dramatis di dunia adalah sosok pembunuh penyendiri.
Tidak jelas benar apakah benar novel itu mampu membangkitkan gairah para penyendiri untuk membunuh tokoh-tokoh dunia. Namun yang pasti, penggemar buku di Jakarta akan mencoba menggali kedalaman dan isi novel itu.
Adalah Yusi Avianto Pareanom, mantan wartawan Forum Keadilan, memprakarsai pembahasan buku itu. Lewat pesan singkatnya ia mewartakan, karya Salinger berhasil diterjemahkan sahabatnya, Gita Widya Laksmini. Apa benar novel bisa menyebabkan dunia kehilangan si jenius yang telah mempersatukan kembali dunia, terutama para penggemar The Beatles?
—–
Reviewed by Borneo Tribune on 2 September 2007
Inspirasi Bagi Pembunuh
Stefanus Akim
Judul : The Catcher in The Rye
Pengarang : J.D Salinger
Editor : Yusi Avianto Pareanom (edisi Indonesia)
Penerbit : Banana, Jakarta
Cetakan : Juni 2007 (kedua), 300 halaman, 19 cm
Dor, dor, dor. Dor!
Empat buah tembakan membelah keheningan malam. Empat buah timah panas yang keluar dari moncong revolver bersarang di tubuh seorang laki-laki berusia 40 tahun. John Lenon. Ia roboh dan bersimbah darah hanya beberapa langkah dari limosin yang baru saja mengantarnya di apartemen Dakota tempat ia tinggal selama ini. Polisi bertindak cepat, membawa mantan vokalis band The Beatles ini ke rumah sakit Roosevelt, namun ia meninggal beberapa saat kemudian. Kejadian itu terjadi di musim dingin 8 Desember 1980.
Pagi hari, beberapa jam sebelum John Lenon terbunuh Mark David Chapman meminta dia menandatangani sebuah buku, The Catcher in The Rye. Chapman sangat terinspirasi dengan novel karangan Jerome David Salinger. Bahwa dirinyalah Holden Caulfield, tokoh utama novel itu. Pria berkacamata itu bahkan pernah menapaktilasi jalanan New York yang dilalui Holden pada malam-malam dingin menjelang Natal. Chapman menembak John Lenon dan mengaku terinspirasi setelah membaca The Catcher in The Rye.
Mengapa buku ini menjadi inspirasi bagi sebagian orang psycho untuk membunuh? Jawabannya beragam. Salah satunya mungkin karena semangat ‘pemberontakan’ yang dilakukan oleh seorang remaja, Holden Caulfield. Terhadap dunia remaja menjelang dewasa. “Salah satu alasan paling besar kenapa aku angkat kaki dari Elkton Hills adalah karena ketika disana aku terjebak di tengah-tengah sederetan pecundang yang serba munafik, itu saja. Mereka ada dimana-mana. Misalnya, mereka punya seorang kepala sekolah, Pak Haas, bajingan paling munafik yang aku temui seumur hidupku.”
Holden sudah tiga kali pindah sekolah. Mulai dari Sekolah Whooton dan Elkton Hills hingga Pencey Prep di Agerstoon, Pennsylvania. ”Yang namanya pertandingan sepakbola selalu saja miskin penonton gadis. Cuma para senior yang boleh membawa pacar mereka. Ini memang sekolah payah.”
Saat terbit pertama kali di Amerika pada 16 Juli 1951 buku ini menjadi fenomena. Pejabat melarang untuk beredar. Salah satu alasannya, buku dengan genre bildungsroman atau karya untuk remaja yang beranjak dewasa ini menggunakan bahasa-bahasa kasar. Ia melihat lingkungan sosial dari kacamata seorang remaja pemberontak yang bermasalah dengan lingkungan sosial dan kepribadiannya. Ia menilai lingkungan dewasa penuh dengan kepalsuan. ”Ini memang sekolah payah, dilihat dari sisi manapun. Aku lebih suka bersekolah di tempat lain, di mana paling tidak ada segelintir gadis bisa dilihat. Mungkin mereka sekedar garuk-garuk, mengeluarkan ingus, atau bahkan cuma cekikan atau itulah, masa bodoh.”
Kini setelah 48 tahun, buku itu terbit dalam bahasa Indenesia. Adalah penerbit Banana yang menerbitkannya untuk Anda. Setelah terbitan pertama laku keras, diluncurkan terbitan kedua untuk mereka yang belum sempat mengkoleksi. Kata-kata (maaf) kasar, kurang ajar, sumpah serapah akan mudah sekali ditemui dalam buku ini. Holden Caulfield, melakukannya secara vulgar dan terang-terangan. Tapi di sinilah letak ”bagus” dan membedakan karya ini dengan yang lain. Simak misalnya, ”Bangsat sialan, minggir kau, cepat bangun dari atas badanku.
Meskipun sudah berusia 48 tahun dan diterbitkan dengan versi Indonesia namun novel karangan seorang novelis dan penulis yang lahir di Manhattan, Now York 1 Januari 1919 ini tetap tak kalah menggigit dibandingkan versi orosinil-Inggris. Tentu saja Salinger tidak bermaksud mengilhami siapapun untuk membunuh atau berbuat kasar setelah membaca karyanya.
Memang jika ditilik, buku ini bukan satu-satunya yang menginspirasikan para psycho melakukan aksi brutal. Ada beberapa karya serupa tapi tak sama yang punya pengaruh ”dahsyat”. Sebut saja misalnya Anthony Fawcett dengan One Day At A Time. Kemudian ada Isaac Asimov dengan novel serialnya Foundation, memengaruhi Shoko Asahara ketua Aum Shinrikyo, sebuah sekte kiamat meledakkan gas sarin di stasiun bawah tanah Tokyo yang menyebabkan 12 orang tewas dan 5 ribu oarng terluka.
Di belahan dunia lain, novel The Turner Diaries memengaruhi Timothy McVeigh menjalankan dengan tepat aksi teror yang diceritakan dalam buku tersebut. Ia kemudian meledakkan gedung federal di Oklahoma, AS. Seratus enam puluh delapan orang tewas karenanya.
Ada pula Theodore John Kaczynski, PhD, mendapatkan ide dan inspirasi untuk melakukan teror ini dari sebuah novel berjudul The Secret Agent, karangan Joseph Conrad. Ia mengirimkan sejumlah bom surat dalam rentang 18 tahun. Tiga orang tewas dan 29 lainnya terluka akibat aksi ini. Sementara novel The Collector karya John Fowles yang terbit untuk pertama kalinya pada 1963 sudah menginspirasi, sedikitnya, lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian.
The Catcher in The Rye tidak eksplisit mengajarkan bagaimana cara-cara membunuh. Bahkan memotivasi pun tidak. Mungkin kemarahan kritik-kritik dan seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, bisa mendorong pembaca yang punya masalah kejiwaan dan mengalami nasib yang sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Ia pembaca yang marah, merasa tidak ada yang memahaminya, tapi sangat sayang keluarga seperti Holden.
Setelah membaca buku ini apakah Anda juga ingin membunuh? Tentu saja jawabannya terserah Anda. Sesungguhnya ada sebuah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Bahwa buku itu mengajarkan semangat orang muda dan perjuangannya. Jika Anda orang lemah, jangan baca! Sebab ia diperuntukkan bagi mereka yang kuat dan punya daya juang.
—–

Danny Schechter
Matinya Media
Perjuangan Menyelamatkan Demokrasi
Ignatius Haryanto hooked me with Obor when they were looking for a translator. I came to their office and talked to Wahyu, who happened to be a friend of Anastasia – who used to be my next door neighbor in Depok way back in my university years. What a coincidence!
The topic is indeed current, relevant and important. It was a great experience. Later I found out that this book led to a column commenting on the media landscape in Indonesia.
”Matinya Media” adalah sebuah buku yang berbicara dengan nada geram dan penuh kekuatiran tentang media massa. Buku ini memperingatkan bahwa bila masyarakat sipil tidak cukup mengambil langkah-langkah yang diperlukan, kebebasan pers yang dinikmati masyarakat justru bisa berkembang menjadi ancaman bagi demokrasi. ”Bunyikan lonceng peringatan, sekarang juga!” tulis Schechter di awal buku ini. Dan peringatan in sangat penting dikumandangkan di Indonesia karena tanda-tanda serupa juga terlihat dalam perkembangan media di negara ini selama beberapa tahun terakhir.
Pluraitas informasi adalah keniscayaan dalam demokrasi dan format ideal untuk menjamin ketersediaan keberagaman tersebut adalah dengan menyerahkan penguasaan media pada pihak swasta. Di sisi lain, kompetisi dijustifikasi sebagai bagian dari pemberdayaan kedaultan konsumen. Kehadiran beragam media baru digambarkan sebagai akan memberi kendali lebih bsar di tangan konsumen, lebih banyak pilihan, lebih memberdayakan individu, serta akan memberikan produk yang lebih murah bagi konsumen.
”Matinya Media” akan mengantar Anda semua pada gambaran kelam tersebut. Hanya saja, Schechter bukanlah penulis yang sekedar mengeluh dan menggerutu. Seperti akan terbaca di sepanjang karya ini, buku ini mengajak para pembaca – yang adalah rakyat berdaulat di negaranya masing-masing- untuk menyelamatkan demokrasi.
Danny Schechter adalah editor eksekutif Mediachannel.org, suatu jaringan media online terbesar di dunia, yang juga mengelola sebuah media blog harian (a daily media blog), Ia juga anggota Neimann Fellow bidang jurnalisme Universitas Harvard, direktur berita stasiun radio rock di Boston, WBCN-FM. Ia adalah salah satu dari produser pertama CNN yang kemudian memenangkan 2 Emmy Award sebagai produser program ABC 20/20. Ia adalah penulis beberapa buku, salah satunya The More You Watch, The Less You Know, dan seorang pembuat film independent, karyanya termasuk WMD (Weapons of Mass Deception) yang menganalisis liputan media tentang perang Irak.
Penerjemah: Gita W.
Kata Pengantar: Ade Armando
Cetakan Pertama: Mei 2007
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
—–
Column on Kedaulatan Rakyat 13 December 2007
Media Massa sebagai The Fourth Estate : Dilematis & Ironis ?
Muhamad Sulhan SIP MSi
Staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM
Saat ini tengah menempuh Program Doktoral Sosiologi UGM.
Media massa seperti diramalkan banyak pihak telah menemukan kejayaannya di abad informasi ini. Ramalan yang juga mentahbiskan bahwa media telah menjadi sebuah pilar keempat (fourth estate) di samping tiga pilar lainnya : lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Sepanjang sejarah perjalanan demokrasi dunia, kedaulatan rakyat sepenuhnya diserahkan pada mekanisme keseimbangan antara tiga pilar utama tersebut. Namun pada saat ini Indonesia mengalami masalah serius seiring menurunnya tingkat kepercayaan atas kinerja ketiganya (Presiden, DPR, dan Lembaga Peradilan) di mata rakyatnya sendiri. Apakah dalam konteks ini media massa juga telah tertulari hal yang sama ? atau malah mampu memunculkan dirinya sebagai sebuah pilar yang tetap kokoh memperjuangkan demokrasi ditengah-tengah lapuk tuanya tiga pilar yang lain ?
Kehidupan Media : Semakin Anti – Demokrasi
Seorang jurnalis kawakan Amerika Serikat (AS), Danny Schechter dalam buku “The Death of Media and The Fight to Save Democracy” (2005), yang diterjemahkan Yayasan Obor Indonesia dengan judul “Matinya Media” (2007) memberikan simpulan yang mengejutkan tentang kecenderungan mutakhir isi media di sana. Menurutnya, perkembangan industri media di negara itu dalam beberapa dekade terakhir semakin menunjukkan watak anti-demokrasi. Salah satu indikator menurutnya adalah isi. Bagi media komersial yang beroperasi dalam sistem yang kapitalistik, informasi adalah komoditas yang harus dikemas, didistribusikan dan dijual dalam beragam cara dan konteks yang menjamin kelanggengan komersial media. Hal terpenting dari semua itu adalah terjaminnya kelanggengan sistem ekonomi yang memungkinkan segenap kepentingan dalam jaringan yang melekat pada media dapat memaksimalkan keuntungan. Singkatnya, isi media otomatis tak ada hubungannya dengan upaya mencerahkan masyarakat. Yang terpenting adalah komoditas itu laku dijual.
Bagaimana dengan Indonesia ?
Kiranya tak jauh berbeda. Laporan AGB Nielsen Media Research dari Januari – September 2007 menunjukkan bahwa dari keseluruhan program yang ditawarkan seluruh stasiun televisi Indonesia, program serial (sinetron) dan movies (FTV) menjadi tayangan terfavorit (Majalah Merketing, Desember 2007). Dengan rata-rata pemirsa di Indonesia yang menghabiskan 2,5 jam per hari untuk menonton televisi, ini berarti pemirsa Indonesia akan terterpa tayangan yang bukan berasal dari sebuah dunia riil rata-rata 900 jam per tahun. Mereka mendapatkan daya katarsis luar biasa untuk lari dari ‘problematika’ nyata kehidupan empirik, menuju ‘dunia seolah-olah’ yang ditawarkan televisi. Semua ini berlangsung dalam sebuah proses yang lebih mirip lingkaran kecanduan, yang menempatkan khalayak media dan institusi media ke dalam sebuah hubungan simbiosis mutualisme : saling menguntungkan.
Seperti apa yang terjadi di AS, institusi media di Indonesia pun kemudian berlomba-lomba untuk adu kreativitas menciptakan berbagai tayangan seinovatif mungkin. Dalam situasi demikian, masihkah kita bisa berharap bahwa media akan menjadi pemantik munculnya demokrasi agar masyarakat menjadi peduli minimal terhadap dirinya sendiri, terlebih kepada bangsa dan negaranya ? Atau khalayak malah diajak lebih hanyut dalam realitas simbolik yang semu dan tak pernah menemukan titik jemu ? Semua kenyataan ini diperparah lagi dengan kecenderungan lain ketika media diberikan otoritas untuk ‘membingkai’ apa yang kita sebut ‘kebenaran’.
Dilema Kebenaran dalam Berita Media Kebenaran, seperti dikatakan Kovach & Rosenstiel (2004) menjadi sabda utama yang diutarakan setiap pelaku jurnalistik. Sebuah sabda utama yang menyimpan jutaan permasalahannya sendiri. Mengalir dari ketidaksepakatan konsep, definisi, aplikasi, dan operasionalisasinya. Hal yang sama sudah diingatkan oleh Walter Lippman, seorang tokoh jurnalis AS, beberapa dekade sebelumnya. Bagi Lippman, tidak ada jaminan bahwa apa yang dikatakan sebuah surat kabar sebagai sebuah kebenaran akan diamini dan menjadi representasi kepentingan publik sepenuhnya. Publik yang membeli surat kabar melalui mekanisme unik, hanya mengharapkan “pancuran kebenaran.” Sebuah harapan yang terasa utopis karena seperti kata Lipman pers merupakan alat kontak utama antara publik pembaca dengan “dunia yang tidak kelihatan”. “Dunia tidak kelihatan” lah yang coba disajikan wartawan ke hadapan pembaca. Terdapat upaya menyampaikan fakta di dalamnya. Padahal buku-buku yang menceritakan tentang upaya menyingkap fakta akan dengan tegas menuliskan bahwa berita bukanlah fakta itu sendiri.
Ada jurang yang terkadang menganga di antara fakta dengan pembingkaian berita sebagai sebuah karya jurnalistik. Hal ini niscaya. Pada titik ini sudah seharusnya pembaca surat kabar, penonton televisi, dan pendengar radio wajib mempercayai bahwa fakta dan kebenaran yang coba disodorkan media dalam berita merupakan sebuah ‘fakta dan kebenaran’ dengan skala dan tingkatan tertentu yang masih membutuhkan daya kritis dan klarifikasi lebih lanjut.
Bagaimana dengan Indonesia ? Data dari freedom house yang dirilis tahun 2004 tentang tingkat kebebasan pers di dunia menunjukkan bahwa pers di negara Indonesia memiliki tingkat kebebasan yang sudah jauh di atas dua negara Asia Tenggara lainnya yakni Singapura dan Malaysia. Namun ironisnya, justru pada saat ini muncul fenomena makin memudarnya respek masyarakat terhadap kinerja wartawan. Penyebabnya antara lain masyarakat melihat tingkat eksploitasi wartawan atas fakta yang sudah berlebihan. Gambar mayat hancur, korban luka-luka dan berdarah-darah ditampilkan secara gamblang tanpa disamarkan di televisi, wartawan sering salah dalam memberikan data sehingga membingungkan, dan semakin kurangnya “ruang” dan bobot informasi di media demi memperbanyak kolom dan halaman iklan. Tentu ini sangat ironis dan dilematis ditengah-tengah kebebasan pers yang menjadi satu tahapan kecil perjuangan demokrasi itu sendiri.
Apabila media massa terus dibiarkan dengan otoritas subjektif dalam membingkai kebenaran itu sesuai dengan terminologinya dan kepentingan ekonomi politik institusinya, maka sangat dikhawatirkan kebenaran akan bersifat anarki. Alih-alih mencerdaskan kehidupan khalayak, media massa berpeluang mendidik khalayak untuk merespons peristiwa penting dan signifikan bagi negara, sama dengan respons mereka terhadap peristiwa kawin cerai para selebritis, serta pertengkaran para artis. Mau bukti ? Sejauh konferensi global warming diadakan di Bali, tidak ada stasiun TV yang menempatkannya di Prime Time. Peristiwa penting dan bersejarah untuk planet Bumi itu masih kalah jauh dibanding Sholehah, Azizah, dan beberapa judul sinetron lain. Pada titik ini tak ada jalan lain kecuali menciptakan sistem akses media yang lebih cerdas dan lebih bertanggung jawab pada diri khalayak. Hal ini yang kita sebut dengan terciptanya masyakarat melek media.
Dalam konteks itu, maka seminar internasional Rethinking Press as the Fourth Estate : Reflection of the Press Practice in South East Asia yang diselenggarakan Jurusan Ilmu Komunikasi UGM hari ini di Gedung Pascasarjana UGM yang berupaya membandingkan sistem pers Indonesia dengan sistem pers Malaysia dan Singapura menjadi sebuah langkah penting untuk mengajak masyarakat Indonesia agar mulai menyadari betapa dilematis dan ironisnya kehidupan pers kita. Semoga kita belum terlambat. q -o (2625-2007) *)
—


Lucinda S. Fleeson
Mengungkap Cerita di Balik Berita
Sebuah Model Pelatihan untuk Mengajarkan Peliputan Invesigatif
and
Sepuluh Langkah Peliputan Investigatif
When Eni Mulia contacted me to translate these training manuals, she sent along a book translated by a senior journalist, Bambang Budjono known affectionately as Bambu.
The original title of the book he translated and rewritten is actually very technical but, as an excellent writer, Bambu use a play of words as its title: Menulis untuk Telinga (Writing for the Ears). It was a truly great title, indeed. I hope mine matches him.
Buku panduan ini didedikasikan untuk sebuah wujud ideal jurnalisme yang terungkap dalam penghargaan Eugene L. Roberts, Jr. Yaitu untuk ”… cerita-cerita yang menuturkan, bukan berkomentar tentang peristiwa yang belum pernah terungkap sebelumnya; berita yang mengungkap, bukan sekedar mengulang; reporter yang menggali informasi bukan sekedar membebek; pencarian kebenaran bukan sekedar mengumpulkan fakta; kepada hutan, bukan hanya kumpulan pepohonan; untuk cerita-cerita yang akan terus diperbindangkan di kedai-kedai kopi di Main Street; untuk berita yang menjawab lebih dari sekedar apa, siapa, dimana, kapan dan mengapa, tetapi juga ”Lalu apa?”; untuk segenap upaya yang dikerahkan demi memptret kehidupan sejati apa adanya; kepada jurnalisme yang ’membuat saya terjaga dan membuka mata’; untuk bangkitnya tradisi penggalian berita yang kini terancam lenyap.
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Editor: Aris Santoso
Cetakan Pertama: April 2007
Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara
—

Kees Grijns dan Peter J.M. Nas
Jakarta Batavia: Esai Sosio-kultural
What I love about this book is that translating it was such a smooth sailing journey. I guess because authors of this book are familiar with academic structures. Their writing styles are systematic, good paragraphing and unambiguous choice of words. Also, it was amazing to learn great details on the city where I was born and raised.
Not long after I got copies from the publisher, I read a review on this book in Kompas! What a very nice surprise. I am glad to see this review because it gives a nice exposure on this book and it introduces these series of exciting stories to a wider audience, instead of mere academic community.
Buku ini merupakan gabungan hasil kerja dari dua puluh satu penulis Timur dan Barat. Beberapa di antara mereka telah menetap lama di Jakarta dan seluruh penulis pernah menetap dan belajar di Jakarta dalam waktu yang singkat atau lama. Keseluruhan penulis ini mempunyai satu persamaan, yaitu mereka semuanya tertarik pada karakteristik kehidupan Jakarta yang mempunyai banyak segi. Masalah yang dibahas berkisar dari kndisi pada masa Batavia VOC sampai ke masalah komunitas etnik dan bangsa, dan juga masalah perkembangan pemerintah administratif. Esai-esai tentang Batavia pada masa awal colonial memberikan pandangan baru mengenai situasi demografi yang didasarkan pada penelitian arsip, dan esai-esai yang berkaitan dengan topik lebih modern menggunakan sumber-sumber khusus, termasuk peta-peta yang ternyata tidak selalu mudah diperoleh di perpustakaan-perpustakaan. Dengan membaca buku ini, orang dihadapkan pada adanya kesejajaran yang mencolok antara masa lampau dan masa kini karena berbagai aspek di Jakarta pada masa kini sebenarnya sudah berakar mendalam dalam sejarah kota itu: baik mengenai demografi dan morfologi perkotaan, absurditas lingkungan hidup, lalu lintas dan banjir, maupun mengenai upacara ritual dan simbolisme. Para sejarawan, pakar antropologi, sosiologi, pegawai pemerintahan dan para perencana tata kota dapat memanfaatkan inspirasi-inspirasi dari gambaran kaleidoskopis ibu kota Indonesia ii.
Kees Grijns (1924-1999), dahulu adalah dosen senior di Universitas Leiden. Pada tahun 1991 ia menerbitkan Jakarta Malay: A Multidimensional Approach to Spatial Variation (Leiden, KILTV Press). Peter J.M. Nas adalah guru besar di Universitas Leiden, dan bekerja di Fakultas Sastra dan di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial di universitas tersebut. Dia telah banyak menerbitkan tulisan dalam bidang sosiologi dan antropologi perkotaan dan terapan.
Penerjemah : Gita Widya Laksmini dan Noor Cholis
Penyunting: Yusi A. Pareanom dan Nurwahyu Woro Santoso
Edisi Pertama: Maret 2007
Penerbit: Banana Publisher dan KILTV
—
Review on Pustaka Loka, Kompas, Senin, 14 Mei 2007
Inspirasi Kaleidoskopis Jakarta
Achmad Sunjayadi
F de Haan pernah sesumbar bahwa ia telah meneliti Batavia sampai ke akar-akarnya. “Si Jago”, demikian julukan arsiparis-peneliti ini, mengatakan Batavia telah ditelitinya seperti ia memeras sebuah jeruk segar hingga kering. Tak tersisa setetes pun.
Sesumbar De Haan ada benarnya karena, bila kita membaca buku ini, hampir sebagian besar para penulis artikel menggunakan De Haan sebagai sumber. Namun, De Haan melupakan satu hal, membicarakan Batavia atau Jakarta sekarang, tak akan ada habisnya. Buktinya, hampir setiap tahun persoalan yang dihadapi kota yang dahulu bergelar “Ratu dari Timur” itu beraneka ragam.
Menariknya, segala macam persoalan itu berakar dari berbagai masalah yang nyaris sama pada masa lalu. Sebut saja aspek demografi, morfologi perkotaan, lingkungan hidup, lalu lintas, hingga banjir. Dalam konteks itulah, buku Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural layak dibaca, khususnya bagi bakal gubernur, penduduk, serta pendatang DKI Jakarta.
Buku yang membahas Jakarta ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh para ahli berbagai latar belakang disiplin ilmu dari luar maupun dalam negeri. Mulai dari sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, linguistik, arsitektur, bahkan sastra. Suatu pendekatan yang semestinya juga dilakukan oleh para pengelola serta aparatur ibu kota negara ini yang memiliki beragam masalah.
Titik tolak yang digunakan buku ini bukan berdasarkan tematis, tapi kronologis. Yang merentang dari masa VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), abad ke-19, periode akhir masa kolonial hingga periode modern pascakemerdekaan.
Simak saja uraian Blussé membahas ritual diplomatik internasional pada periode awal Batavia. Ia menuturkan bagaimana para pejabat VOC harus mempelajari etiket dan protokol diplomatik. Berbagai upacara penyambutan, seperti tur dengan kereta kuda, defile pasukan bertombak, tembakan salvo hingga diisapnya sebatang pipa cangklong, harus diketahui oleh pejabat VOC.
Lalu ia membandingkan dengan penyambutan tamu negara masa kini. Melesat dengan kecepatan penuh dari bandara ke penginapan mereka, didahului dan diikuti rombongan polisi militer dengan raungan sirine dan lampu menyala-nyala. Tanpa memberi kesempatan kepada penduduk Jakarta untuk ber- tatapan dengan tamu pembesar asing itu (hal 36).
Masalah kesehatan serta nyamuk yang hingga sekarang juga menjadi masalah serius Jakarta ternyata juga merupakan persoalan pada masa lalu. Ironisnya, hal itu seolah menjadi persoalan yang tak kunjung padam. Masalah kesehatan pada masa VOC inilah yang dibahas lugas oleh Van der Brug.
Rumah sakit kompeni yang seharusnya membuat pasien menjadi sehat justru semakin membuat pasien sakit bahkan meninggal. Para pegawai senior VOC, kalau masih menyayangi nyawa, disarankan untuk dirawat di rumah saja daripada dirawat di rumah sakit yang jorok, kotor, penuh sesak (hal 51). Bagaimana pula dengan pelayanan rumah sakit pada masa kini?
Menurut penduduk, penyakit mereka berasal dari “uap jahat” yang ditengarai karena pendangkalan pantai yang dipenuhi sampah, bangkai ikan busuk. Tidak hanya itu, kanal yang tercemar, kuburan di halaman gereja, kualitas air, penebangan hutan, penggalian saluran air di sekitar kota hingga pencemaran Sungai Ciliwung karena adanya pabrik gula dituding sebagai biang kerok penyakit ganas di Batavia (hal 52).
Pakaian antinyamuk
Nyamuk pun jadi sasaran kambing hitam. Bila masa kini yang ditakuti nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), pada masa VOC nyamuk malaria (Anopheles sundaicus) jadi momok menakutkan. Begitu berbahayanya hingga pada masa VOC orang mengenakan “pakaian antinyamuk” khusus. Dalam berbagai pesta makan malam adalah hal biasa setiap tamu mempunyai seorang pelayan pribadi yang bertugas mengusir nyamuk dengan kipas besar (hal 64).
Ketidaksehatan Batavia ini sangat terkenal hingga seluruh Eropa. Ketika Raffles yang menjabat letnan gubernur Jawa kembali ke Inggris pada 1816, ia ditugaskan ke St Helena menemui Napoleon. Pertanyaan pertama Napoleon, apakah Batavia masih tidak sehat? Ketika itu memang Raffles sedang menderita malaria-cachexie dan tampak kurus (hal 73).
Masalah keamanan wilayah Ommelanden (di sekitar) Batavia menjadi perhatian Remco Raben. Persoalannya adalah konflik antarkomunitas. Pada 1686, ketika sebuah gardu jaga di kota diserang bandit-bandit Bali, VOC memutuskan mengeluarkan peraturan rinci mencakup semua komunitas di Ommelanden.
Diangkatlah para kepala kampung dengan pangkat kapten. Mereka diberi imbalan tanah untuk diri mereka serta para pengikutnya. Dengan cara ini diharapkan berbagai komunitas dijauhkan dari dalam kota (hal 104). Salah satu contoh adalah Kapten Jonker yang memiliki tanah di dekat Sungai Marunda.
Bicara ’kepala kampung’, Mona Lohanda dalam artikelnya menyebutkan, kepala kampung pertama yang diangkat pada 1620 adalah kepala kampung China, Kapitan China.
Berbeda dengan pengangkatan kapten China pertama yang tercatat dalam Resolutien van ’t Casteel Batavia pada 11 Oktober 1620, VOC justru tidak memberi perhatian pada pengangkatan Inlandsche Kommandanten yang berasal dari berbagai ’suku’ ini. Antara lain, Kommandant der Boegineezen en Makassaren (Bugis dan Makkasar), der Amboneezen en Boetonders (Ambon dan Buton).
Betawi Asli
Apakah kaum bangsawan dikenal dalam masyarakat Betawi? Pertanyaan inilah yang mendasari Yasmine Shahab dalam membahas pembentukan elite Betawi yang berpangkal pada sejarah prakolonial.
Dalam artikelnya Yasmin menampilkan sebuah perhimpunan bernama Al Fatawi Mangkudat yang menyatakan diri sebagai representasi aristokrasi lama Jayakarta pra-Batavia sehingga memberi para anggotanya hak untuk dianggap sebagai BA alias orang Betawi Asli (hal 213).
Karya sastra ternyata dapat juga dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi masa lalu. Seperti artikel Gerard Termorshuizen yang menggunakan novel-novel PA Daum dalam mengungkapkan kehidupan kolonial di Batavia. Mulai dari gambaran kedudukan sosial, hobi pamer, kehidupan religius, hiburan dan kebudayaan, kaum Indo rendahan dan nyai hingga kaum pribumi miskin yang tertindas. Di sini tampak bahwa karya sastra terkadang bisa memunculkan gambaran lebih jelas tentang sebuah masyarakat ketimbang satu rak sarat naskah sejarah yang formal dan kaku.
Sementara itu, Huub de Jonge memusatkan perhatian pada orang Arab di Batavia. Kelompok etnis yang relatif kurang mendapat perhatian. Padahal, komunitas Arab di Batavia adalah komunitas Arab terbesar kedua setelah komunitas Arab di Surabaya. Ia membahas sejarah komunitas Arab di Batavia, ketegangan dan konflik dalam komunitas tersebut.
Susan Blackburn dalam artikelnya menyoroti persoalan hak pilih perempuan dan posisi perempuan di Batavia yang tampaknya merupakan persoalan rumit. Ia mengungkapkan sulitnya kerja sama antara kaum perempuan pribumi, Tionghoa, Belanda, dan Indo. Hal yang khusus dibahas adalah cabang Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht (Perhimpunan Pemilih Perempuan) di Batavia yang belum pernah dikaji sebelumnya.
Gang TSS
Nama-nama tempat di JA[DE]BOTABEK merupakan hasil penelitian memikat Kees Grijns yang menandai memori kolektif dan historis komunitas urban. Ia mengungkapkan berbagai nama jalan di Jakarta yang masih menunjukkan karakter asli pedesaan tempat itu, misalnya Kebon Sirih, Kebon Jeruk, atau Kebon Kopi.
Begitu pula nama jalan dengan nama haji tertentu yang menunjukkan kentalnya ikatan emosional orang Batavia dengan Islam tradisional. Namun, tahukah kita ada gang yang diberi nama ’Gang TSS’? Ternyata merupakan singkatan ’Tolong Sakit Sengsara’ dan penghormatan terhadap seorang dokter Jawa yang membantu penduduk semasa penjajahan Jepang (hal 230).
Topik pelestarian alam di kawasan metropolitan Jakarta digarap Luc Nagtegaal dan Peter JM Nas. Mereka memaparkan kondisi kawasan hijau dari tipe-tipe yang berbeda, seperti taman, tanah kosong, taman milik pribadi, lapangan terbang, tanah makam, padang golf, lahan pertanian serta daerah resapan air. Mereka merumuskan pula sebuah teori tentang distribusi spasial kawasan hijau kota.
Artikel menarik lainnya adalah pandangan dari ’atas’, yaitu kebijakan para pemimpin Jakarta dari masa ke masa karya Peter JM Nas dan Manasse Malo. Mereka menelaah kebijakan tersebut dengan menganalisis riwayat para wali kota dan gubernur pascaperang. Mulai dari Wali Kota Suwirjo hingga Gubernur Wiyogo (1945-1992).
Dengan kata lain gubernur, petinggi dan penduduk DKI Jakarta boleh saja silih berganti tapi persoalan yang dihadapi nyaris sama, berulang dan bahkan kian beragam.
Kekurangan buku ini (mungkin) kekurangjelian penyunting terjemahan pada halaman 1. Di sana tertulis tahun terbitan buku Oud Batavia karya si Jago, F de Haan 1992 seharusnya adalah 1922, seperti yang tercantum pada buku aslinya.
Secara umum buku yang dilengkapi peta, tabel, dan ilustrasi ini cukup menarik dan memberikan inspirasi bagi pakar sejarah, antropologi, sosiologi, tata kota, khususnya jajaran petinggi DKI Jakarta. Begitu pula para pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang gambaran persoalan ibu kota Negara Indonesia yang tak ada habisnya, kurang lebih bisa terpuaskan.
Achmad Sunjayadi Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dan Erasmus Taalcentrum Jakarta
—–
Jim Aitchison
Cutting Edge Radio
Bagaimana Menciptakan Iklan Radio Terbaik di Dunia
It is one of the most difficult translation jobs I have ever taken!
This book is rich with playful idioms and slangs. Sure, they are cool and funny to read, but, oh boy, they are a gigantic challenge to translate! I literally grinded my teeth when I tried to find words, terms and jargons to match their humorous elements. Phew!
Thanks to Tessa Piper for her assistance and suggestions, I was able to finish this book.
Inilah panduan langkah demi langkah bagaimana membuat iklan radio. Mengupas habis tentang bagaimana radio berkomunikasi, bagaimana iklan radio yang efektif. Bagaimana menggali ide iklan yang hebat dan membangunnya menjadi sebuah naskah. Bagaimana menemukan pemeran yang cocok, dan akhirnya bagaimana membuat rekaman iklan radio.
Buku ini mengajak Anda bergabung dengan para guru legendaris dalam bidang iklan radio seperti Tony Hertz dan Ralph Van Dijk dari Inggris; Austin Howe, John Immesoete, Keith Reinhard dan Thomas Hripko dari Amerika; Street Remley, Lionel Hunt dan Jack Vaughan, dari Australia. Dibumbuni berbagai tips langusng dari para kreatif seperti Michael Conrad, David Droga, Paul Fishlock, Neil French, Steve Henry dan masih banyak lagi. Buku ini juga dilengkapi contoh-contoh naskah iklan terbaik di dunia. Mempelajari rahasia melakukan rekaman radio di studio-studio papan atas dunia seperti Angell Sound dan Eardrum di Inggris atau Famous Radio Ranch, Amerika dan Flint Webster, Song Zu dan Stellar Sound di Australia.
Menengok apa yang berada di balik layar kampanye radio seperti Real American Hearos dan Motel 6 dari agency kelas dunia BBDO, The Campaign Palace, DDB Worldwide, Leo Brunett, The Richards Group, Saatchi & Saatchi dan lainnya.
”Buku ini memang tidak bertabur teor, tetapi sebuah laku pendekatan yang sangat ngepop untuk mereka yang ingin tahu bagaimana cara membuat iklan radio dengan berjuta inspirasi, sehingga layak dijadikan bacaan wajib insan periklanan”
Djito Kasio, creative consultant
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Editor: Irawan Saptono
Kata Pengantar: Djito Kasio
Cetakan pertama: Maret 2007
Diterbitkan atas kerjasaman Kantor Berita Radio 68H dan Media Development Loan Fund.
—–
M. Firmah Ichsan, Nico Dharmajungen, Oscar Motuloh, Erik Prasetya, Yudhi Soerjoatmodjo, Tara Sosrowardoyo, Jay Subyakto, Darwis Triadi.
Yang Tercinta
The Loved Ones
In this book, I took up a role I had never taken before in my life, a ‘collaborator’.
This book compiles works of numerous photographers to interpret one topic “the loved ones.”. One of those artists is my husband Yudhi.
It is not easy to describe precisely how I play a role in his work or art. I guess because throughout the whole process, ‘I’ and ‘him’ emerged into one. It was an incredible experience for me to see our story evolves into a series of beautiful pictures.
Yudhi Soerjoatmodjo
Pimlico
Foto-foto ini merupakan bagian kedua dari trilogi karya yang sudah dimlai dengan pameran Facade di Goethehaus tahun 2003. Dia mewakili satu babapk baru dalam karya saya setelah hampir 7 tahun berhenti memotret. Judul Pimlico diambil dari nama sebuah distrik di London. Secara kebetulan saat saya berada di daerah Pimliko ada banyak sekali gagasan kreatif yang mnucl. Saat itu saya merasa sangat ingin membuat sebuah cerita pendek atau catatan harian yang sangat terbuka maknanya.
Selama berhenti memotret, saya tetap berpikir tentang proses berkarya selanjutnya. Memang cukp sulit karen akarya-karya saya sebelumnya hitam-putih dan menggunakan metode karya narasi-esai yang sudah begitu banyak digunakan orang dan sudah mulai terasa menjemukan buat saya. Saat iseng dan meminjam kamera digital, seya mendapatkan pengalaman yang sangat dekat dengan pengalaman melihat, karena hasilnya bisa langsung dilihat. Ini perbedaan yang cukup besar dbandingkan proses memotret yang saya jalani sebelmnya, dimana saya sangat disibukkan dengan pengaturan kameran dan proses di kamar gelap. Prose pada kamera digital lbih cepat karena langsung lihat di layar. Manipulasi gambar pun bisa dilkaukan di komputer. Teknik potret yang dulu secara mekanis lebih bertahap, dengan digital jadi lebih cepat.
Saya pilih kamera yang paling ringkas, kecil dan bisa masuk kantong. Pada saat yang sama kamera ini punya pilihan kontrol yang cukpu bagus karena bisa dioperasikan secar amanual. Saya membiarkan kamera itu sendiri yang mengatur secara teknis supaya punya lebih banyak waktu untuk melihat.
Pimlico sebetulnya kalau dilihat mempunya bentuk yang lebih konvensional dibandingkan seri karya saya yang sebelumnya, Facade, karena dia berurutan dari satu foto ke foto berikutnya. Walau mirip, Pimlico ini tidak saya manskudkan sebagia esai foto. Dalam Pimlico orang bisa melihat tubuh telanjang itu berada langsung di harapan saya, bukan tayangan TV seperti dalam Facade. Melalui karya ini saya memaksa orang untuk melihat dari mata saya dan apa yang saya alami secara fisik.
Pada Pimlico, saya tidak lagi mencomot imaji untuk dihadirkan sebagia bahan pembicaraan seperti dalam karya sebelumnya. Pada rangkaian ini saya sadar bahwa saya sedang melamun dan melihat. Kira-kira mirip seperti kalau kita naik kereta dan melihat ke luar jendela, lantas hanyut dalam lamunan. Tiba-tiba kita melihat pantulan diri kita sendiri di kaca dan tersadar bahwa kita sedang melihat.
Editor: Lisabona Rahman
Editor Bahasa: Alex Supartono
Penerjemah: Idaman Andarmosoko
Penerbit: Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Budaya Visual Oktagon, 2005
Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Budaya isual Oktagon dalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh sekelompok pekerja dan pecinta seni, dosen, peneliti dan mereka yang peduli dan mau bekerja memajukan pendidikan serta kesadaran budaya visual dalam kaitannya dengan pembentukan sejarah, demokrasi dan identitas. Kegiatan Yayasan Oktagon melipui pameran, pemutaran film, diskusi serta penerbitan buku.

—–

Ignatius Haryanto
Apa itu Kebebasan Memperoleh Informasi?
Freedom of expression and information are my soft spots. I took the extra miles in editing this book with … pure love and passion.
I know it sounds weird, as love and freedom of information are uncommon combination, haha. But honestly, that was how I felt when I scrutinized every single word and inserted additional information and checking footnotes.
Buku kecil ini merupakan buku panduan singkat untuk memahami konsep-konsep dasar Kebebasan Memperoleh Informasi, apa keuntungan dengan adanya kebebasan tersebut dan apa pula kerugian yang selam ani terjadi ketika ktia belum memiliki UU ini.
Hadirnya buku ini sebagai respon agar pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mempercepat proses pembuatan UU Kebebasan Memperoleh Informasi ini. Buku ini ditujukan bagi para pejabat pemerintah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, aktivis LSM, mahasiswa, dosen dan para peminat lainnya.
Penulis Ignatius Haryanto
Penyunting: Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Cetakan Pertama: September 2005
Penerbit: LSPP, Koalisi Kebebasan Memperoleh Informasi dan UNESCO
—–
Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Menyelesaikan Perkara Tanpa Prahara
Penggunaan UU Pers no. 40/99 dalam Sengketa Pers
This is my first book!
I was invited by AJI to develop a book out of a pile of materials and slides of Power Point Presentations, stacks of cassettes and copies of papers from speakers of a training prepared and organized by LBH Pers. It was a difficult yet exciting topic and I am proud that I managed to pull through and write it.
One more thing, I had to be able to juggle my writing and tons of preparation for my wedding day, phew!
Hope many other books will follow…
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagia perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Mulanya adalah pembredelan Detik, Editor dan Tempo, 21 Juni 1994. Ketiganya dibredel karena pemberitaaannya yang tergolong kritis kepada penguasa. Tindakan represif inilah yang memicu aksi solidaritas sekaligus perlawanan dari banyak kalangan secara merata di sejumlah kota.
Setelah itu, gerakan perlawanan terus mengkristal. Akhirnya, pada tanggal 7 Agustus 1994, 58 jurnalis menandatangani Deklarasi Sinargalih yang menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI.
Saat ini, AJI mewakili hampir 1000 orang jurnalis dan berada di 21 kota di seluruh wilayah Indonesia.
Media Development Loan Fund (MDLF) adalah sebuah yayasan swasta Amerika Serikat yang didirikan sejak 1995 untuk membantu organisasi-organisasi pers independen dalam mengembangkan demokrasi dan mengupayakan kemandirian keuangan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website MDLP http://www.mdlf.org
Penulis: Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Editor: AA Sudirman
Kata Pengantar: Trimoelja D. Soerjadi
Cetakan pertama, Mei 2005
Penerbit: AJI didukung oleh MDLF
—–
Article 19 Annual Review 2004
When I learned that my Human Rights course endorsed its students to take up internship in various London-based NGOs, I knew I had to get in touch with Article 19.
My reason was clear, I plan to do research on freedom of information in Indonesia and this organization is playing an important role in supporting this movement. It was also practical, as it was located in Angel, which is between my University of London in Russell Square and my shabby flat in Seven Sisters. Another trivial reason, it was economical as this organization paid for my lunch and transportation fees, hahaha.
Little that I knew that I would bump into Dini Widiastuti, a fellow Indonesian and fellow Chevening recipient, who worked in Asia Division. In an organization where everybody speaks in English, Dutch, Spanish and French, it was fun to be able to gossip in Indonesian!
It was such a surprise for me to see that my name was printed in this organization’s annual review. The weird thing is that this annual review was made available in a seminar in Jakarta in which a representative from Article 19 was as one of the speakers. And just like me, she also an alumni of Institute of Commonwealth Studies!
Everything is connected!
Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.
Intern: Gita Widya Laksmini, etc.
Published by: Article 19, 2004
—–

Rumoh Geudong – The Scar of the Acehnese
I understand that, yes, different types of torture and degrading treatments were applied to the Acehnese. But when I read personal accounts compiled in this book, my heart sank by the level of cruelty human beings are capable of doing to another… What a world we live in…
Inside Rumoh Geudong, They treated us all very badly. It was non-stop, from dusk till dawn. when the time for the call for prayer came, they got thrilled. As the sun went down and maghrib praying time came, they reached the nearby radio and searched for the right frequency. As the call for prayer went on the air, they turned the volume up to the maximum. Then they all went crazy, as if they were possessed by some kind of evil spirits. They beat, hit and kicked us harder, harder, harder and harder. we screamed to the top of our lungs and begged for mercy, but they wouldn’t stop. They wouldn’t stop at all. When General Wiranto withdrew the Military Operation Area ( Daerah Operasi Militer/DOM) status from aceh on august 7 1999, numerous massive human rights violations came out in the open and triggered outcry of the Acehnese and the people outside Aceh. CORDOVA tried to conduct a study to reveal the grim reality, which is beyond the ratio of any human being. CORDOVA hopes this book would provide valuable lessons for the new generation of Aceh, to all the people in Indonesia and also the international community.
Penulis: Dyah Rahmany P.
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Penerbit: LSPP dan Cordova
Cetakan pertama: 2004.
—

Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser
The writer was a good friend I knew in a community I belonged to at that time. I was more than happy to help him edit this book.
It was exhilarating to know that it is on its FOURTH edition! Cool..
Isi buku mencakup:
- Panduan penggunaan buku ini
- sekilas pengetahuan tentang film (jenis-jenis film, teknis, dan format yang hendak digunakan)
- perencanaan produksi
- seluk beluk penyusunan anggaran dan pencarian dana
- penyusunan tim produksi
- tata suara
- saat produksi shooting
- menjelang pasca produksi dan pembuatan laporan
Buku dilampiri oleh daftar pustaka, bacaan lanjutan, dan glosarium. Penulis buku kelahiran 1971 ini, sebelumnya terlibat dalam produksi beberapa film yaitu: Petualangan Sherina (Miles, 2000), Ca Bau Kan (Kalyana Shira Film, 2002), dan Ada Apa dengan Cinta (Miles, 2002).
“… Suasana Indonesia terasa, begitu kita menyadari adanya proses yang disederhanakan, disesuaikan dengan kondisi produksi yang mungkin di Indonesia. Hal ini juga terlihat lewat upaya menyederhanakan formulir produksi ke dalam bentuk yang sederhana dan sebagian istilahnya menggunakan Bahasa Indonesia.” — Mira Lesmana, Produser.
“Membuat film layaknya membangun rumah; desain dan fondasi adalah yang utama. Inilah titik pandang utama buku ini. Sederhananya buku langka ini bisa saja dijadikan sejenis panduan memasak, namun ia dapat pula menjadi referensi yang menjawab tantangan berproduksi film hari ini.” — Riri Riza, Penulis/Sutradara.
“Buku ini bisa menjadi pedoman bagi orang yang berniat memulai kariernya di bidang produksi film. Sangat membantu bagi masyarakat awam untuk menentukan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilupakan dalam proses produksi sebuah film.” — Swasti Paramita, Siswi Kelas 3, SMU Kristen Penabur, Jakarta.
”Bukunya bagus… lengkap dan sempurna banget!! Pokoknya bener-bener panduan yang baik untuk memproduksi film seefisien mungkin” – Prima Sari, Siswi Kelas 3 SMU Al-Izhar, Pondok Labu.
Penulis: Heru Effendy
Editor: Gita Widya Laksmini
Kata pengantar: Mira Lesmana
Diterbitkan oleh Yayasan Konfiden dan Penerbit Panduan, 2002
—

Albert Alberts
The Islands: When Masters Turn Into Slaves
Stumbled upon this book on assignment in Tempo magazine, I ended up liking it so much.So I revamped my review into English and was published in Amazon.com on November 17, 2000.
On the funny side, the writer is a Dutch man, not a Sundanese!
What did a man have in mind when he marked his footprints on the islands he must conquer?
‘I’ -the main character- chose to surrender in the faces of grass, forest, waves and sand. To “the narrator”, those islands -as fertile as a womb of a young woman – stole his identity and turned him into a complete stranger.
Published in 1952, this fiction was considered as masterpiece of one of the most important writers of the modern Dutch literature era, Albert Alberts. In 1939, he was posted in Sumenep Madura East Java and lived a paradise-like life. His dream turned into nightmare in 1942, he was captured by the Japanese soldiers. Transferred from one cell to another, he almost lost his life. He became free when the Japanese fled from Indonesia. After a year of uncertain life during the power-shift from Dutch to England, he decided to return. In the Netherlands, he published `The Islands’. He became a journalist and an editor of a local newspaper in 1953-1964, following the same path Hemingway once took, and wrote mostly about Indonesian politics. In 1975, Alberts received a prestigious Constantijn Huygens Prize award.
Via `The Islands’ we can look into the life of a conqueror, on how he scrutinized the islands to exploit and on how he deconstructed his values along with his interactions with the locals. From these short stories, we can look on how a simple man tried to cope his loneliness, on how the ugliness of his exhaustion transformed into a weave of reminiscences.
His personal touches are obvious in Alberts’ ignorance to write complete his sentences with `subjects’ or `predicates’. He didn’t care to place the islands in the structure of reality. Only in one of 11 short stories, did Alberts state the island’s name (and it’s an imaginative one). Alberts let his readers to freely interpret the context of time and space. Therefore, the editor completed Alberts’ work by giving 9 pages of footnotes, 7 pages of preface and 21 pages of introduction.
dear Gita,
mau nanya metode apa yang anda pakai dalam menerjemahkan The Catcher In The Rye? As we all know novel ini banyak terdapat kata2 kasar. Aku lagi buat research proposal dan milih novel ini untuk dibahas masalah penerjemahannya.
I’m looking forward for ur reply.
yours faithfully
Sessy
By: Sessy on July 4, 2008
at 7:18 pm